Cinta Yang Terlambat

Tuesday, May 10, 2016

Cinta Yang Terlambat

Cerpen Karangan: Nabilah


Entah ini sebuah mimpi atau memang nyata adanya, yang Randi ingat hanya satu. Rini adalah gadis yang dicintainya. Seorang gadis yang tawanya bagaikan kuntilanak yang menghantuinya tiap malam, tak terlintas dalam benak Randi untuk curiga siapa Rini sebenarnya, gadis yang ia kenal di pinggir jalan tengah menangis tak tahu jalan pulang. Randi yang teramat baik menolongnya, ia membawa Rini ke villanya. Memberikan tempat berteduh untuk Rini untuk beberapa waktu hingga Randi tahu alamat rumah Rini dan mengantarnya pulang. Bi Tinah yang menjadi asisten rumah tangga Randi di villanya yang Randi berikan amanat untuk meladeni Rini pun tak tahu gadis yang mana yang harus diladeninya, melihatnya saja ia tak pernah.

Di tengah malam yang sepi, angin berlalu cukup kencang menggoyahkan pohon bambu yang tertanam di halaman villa hingga saling bergesekan menimbulkan suara yang ngilu didengarkan, ditambah dengan deruk burung hantu yang sebelumnya tak pernah hadir, kini hadir bertengger di pohon mangga bersama sang gagak yang tengah bernyanyi pula di atas genting. Bi Tinah mengernyitkan dahinya melihat keadaan yang tak seperti biasanya ini, bulu kuduknya merinding seketika terdengar suara tangisan seorang perempuan, takut tapi penasaran, bi Tinah pun mencari sumber suara tersebut, kedengarannya dari lantai dua di sebuah kamar yang Randi katakan Rini singgah di kamar itu. Bi Tinah mengetuk pintu sambil memanggil Rini. “Permisi non… non Rini..” ucap bi Tinah.

Pintu yang tak terkunci itu pun dibukanya begitu saja, suara tangisan itu pun hilang, ruangan gelap dan tak ada siapa pun, hanya pancaran sinar rembulan purnama yang menerangi ruangan itu yang menerobos jendela yang terbuka itu. Ditutupnya jendela itu, dan spontan langsung menjerit ketika sesosok seorang wanita dengan wajah menyeramkan muncul tepat di hadapannya, bi Tinah pun terperanjat dari tidurnya, rupanya cuma mimpi. Bi Tinah pun beranjak ke dapur mengambil segelas air putih, nampak Randi yang terlelap di sofa ruang tengah, bi Tinah pun membangunkannya agar ia pindah ke kamarnya.

“Maaf den mengganggu, tidurnya di kamar saja den, banyak nyamuk di sini,” ucap bi Tinah.
“Oh.. iya Bi ketiduran tadi lagi nonton tv,” jawab Randi.
“Ya sudah saya ke dalam dulu ya den,”
“Iya Bi.”

Bi Tinah pun kembali ke kamarnya. Randi mengusap-usap matanya, nampaknya ia sangat lelah setelah seharian mencari alamat tanpa petunjuk sedikit pun dan hasilnya pun nihil. Amat terkejutnya Randi ketika tiba-tiba Rini ada di hadapannya meminta izin untuk pulang. Randi pun melarangnya karena hari sudah larut malam, Rini pun tetap melangkah ke luar Villa tak menghiraukan Randi. Randi pun membuntutinya khawatir jika terjadi apa-apa pada Rini, cukup jauh mereka jalan.

“Ini udah malem Rin, besok aku anterin kamu pulang,” ucap Randi.
“Aku mau pulang Ran.. Ibu sama Bapak pasti nyariin aku, khawatir sama aku,” jawab Rini sambil menangis.
“Iya aku tahu, kamu tenang aja, pasti kamu pulang kok ketemu sama orangtua kamu, oke? kita balik dulu ke villa, besok kita cari rumah kamu sama-sama,” jawab Randi memeluk Rini yang masih menangis.

Mereka pun kembali ke villa. Dari hari ke hari keduanya semakin dekat dan timbul sebuah perasaan untuk memiliki. Hingga di suatu perjalanan saat keduanya masih mencari rumah Rini, Randi mengungkapkan perasaannya pada Rini. Rini pun tertunduk diam, entah apa yang harus ia katakan untuk menjawab perasaan Randi. Randi memegang tangan Rini meyakinkan bahwa ia akan membahagiakan Rini.

“Aku juga sayang kamu Ran, tapi kita gak bisa sama-sama karena kita berbeda,” jawab Rini sambil menatap Randi.
“Beda gimana sih Rin, apa pun kamu, siapa pun kamu, bagaimanapun kamu, dari mana pun kamu, aku tetep cinta kamu,” ucap Randi. “Gak bisa Ran, sebentar lagi aku harus pulang, karena bentar lagi kita sampe di tempat tujuan kita.”

Tiba-tiba Randi oleng, mobil yang dikendarainya remnya blong dan masuk ke jurang. Seseorang yang melihat kejadian itu pun segera memanggil bantuan, saat polisi tengah mengevakuasi Randi, polisi menemukan sebuah peti dengan ukuran panjang 1,5 meter dan lebar 0,50 meter di bawah jurang yang tertutup oleh rerumputan. Saat dibuka baunya teramat busuk, seorang mayat perempuan ditemukan di dalam peti tersebut, polisi pun mengevakuasinya untuk diautopsi di rumah sakit. Keadaan Randi tidak terlalu parah, begitu ia tersadar dicarinya sosok gadis pujaannya, Rini. Hanya ada seorang suster di sampingnya yang menaruh obat-obatan di meja.

“Saya di rumah sakit ya sus?” tanya Randi.
“Iya Pak, semalam Anda mengalami kecelakaan, mobil Anda masuk ke jurang,” jawab Suster.
“Oh ya sus gimana keadaan Rini?”
“Maaf Rini siapa ya Pak?”
“Eh.. itu perempuan yang satu mobil sama saya sus,”
“Saya kurang tahu Pak, yang saya tahu semalam korban kecelakaan yang masuk rumah sakit ini, cuma Bapak, saya permisi ya Pak.” Suster pun berlalu pergi, Randi pun merasa heran, semalam ia bersama Rini bagaimana mungkin Rini tidak ditemukan dalam pengevakuasian kecelakaan itu, disetelnya tv di hadapannya itu, tersiar sebuah berita tentang kecelakaannya semalam.

“Sebuah mobil yang dikendarai seorang pria 24 tahun masuk ke jurang tadi malam pukul 00.00 WIB, polisi segera mengevakuasi korban yakni Randi Fernando seorang eksekutif muda dari jakarta, selain pengevakuasian korban, polisi juga mengevakuasi sebuah peti berisikan seorang mayat perempuan di bawah jurang untuk diautopsi di rumah sakit Kasih Bunda. Mayat di dalam peti tersebut adalah korban pembunuhan karena hasil autopsi menemukan beberapa luka akibat pukulan benda tajam. Menurut prediksi polisi berdasarkan hasil autopsi pembunuhan tersebut terjadi 3 bulan yang lalu, selain mayat di dalam peti juga ditemukan dompet yang berisikan identitas korban yakni Rini Kumalasari.”

Randi pun kaget melihat berita tersebut, ia bergegas ke ruang autopsi mayat yang dijaga polisi di depannya. Karena tak boleh masuk Randi pun menanyakan tentang identitas mayat dalam peti tersebut. Polisi menunjukkan KTP mayat dalam peti tersebut. Ya itu Rini. Rini yang baru 3 bulan ini ia kenal dan ia cintai, ia pun tak dapat berkata apa-apa lagi, bagaimana mungkin ini terjadi. Ia mencintai seseorang yang telah meninggal dunia. Seharian Randi menangis di kamarnya, tak percaya dengan semua ini. Tiba-tiba muncul sosok gadis yang dicintainya, Rini datang menghampirinya sambil tersenyum dan membelai rambutnya, Randi pun mendongak, wajahnya nampak bahagia dengan kehadiran Rini.

“Makasih ya Ran udah nolongin aku, sekarang aku udah tenang,” ucap Rini.
“Rini..” ucap Randi, ia tak mampu berkata apa pun selain memanggil namanya.
Perlahan wujud Rini semakin membayang, dan menipis. “Aku menunggu kamu Ran.” ucap Rini sebelum akhirnya menghilang.

Randi pun tersentak dari tidurnya, rupanya hanya sebuah mimpi, mimpi yang terasa seperti nyata bahkan sangat nyata. Ia tak mungkin selamanya akan terpuruk dalam bayang-bayang Rini. Esok harinya ia kembali bekerja masuk kantornya, hari ini ia ada meeting dengan mitra kerjanya yang baru. Dan Randi hanya bengong ketika mitra barunya datang, seorang gadis berparas cantik, bahkan sangat mirip dengan Rini, atau mungkinkah itu memang Rini.

“Selamat siang, maaf terlambat,” ucap gadis itu.
“Rini,” ucap Randi.
“Maaf nama saya Rani.”