Dua Tahun Sudah

Thursday, May 26, 2016

Dua Tahun Sudah

Cerpen Karangan : Samuel Gabriel

Hubungan kami yang berjalan hampir dua tahun awalnya baik-baik saja. Walaupun terkadang ada hal-hal yang selalu kami perdebatkan, seperti rasa cemburu, adanya kurang perhatian menurut pandangan masing-masing, dan banyak hal-hal lainnya. Biasanya yang selalu mengundang perdebatan itu adalah aku. Rasa cemburuku selalu saja datang menghantui ketika aku melihat ia begitu akrab dengan rekan-rekan kerjanya yang kebanyakan wanita. Apalagi wajahnya yang tampan dan prestasi-prestasi di dalam pekerjaannya yang membuat begitu banyak wanita yang ingin mengenal lebih dekat, tetapi karena rasa sayang dan setianya yang membuat hatiku begitu yakin bahwa tidak akan ada pengkhianatan cinta dalam hubungan kami.

Ia pernah cerita kepadaku bahwa di kantornya ada seorang pegawai baru yang bernama Ana. Awalnya aku bingung dengan ceritanya, karena jarang sekali ia bercerita tentang wanita lain kepadaku. Tapi aku memilih untuk berpikir positif dan mendengarkan ceritanya. Ia menceritakan bahwa wanita yang sudah seminggu bekerja di tempatnya diam-diam menyukai dirinya. Hatiku terasa panas ketika mendengar kalimat yang ke luar dari bibirnya, dari raut wajah dan cara menceritakannya juga terlihat berbeda. Tidak seperti cerita-cerita sebelumnya tentang wanita lain yang menghampirinya untuk berkenalan. Setelah begitu banyak kalimat yang ia lontarkan ke telingaku, hanya dua kata saja yang aku sampaikan kepadanya. Hati-hati. Dua kata yang singkat tapi seperti memberi sinyal kepadanya bahwa ini mungkin akan menjadi jurang di dalam perjalanan hubungan kami.

Pertengkaran adalah hal yang wajar dalam setiap hubungan. Banyak juga yang mengatakan bahwa hubungan tanpa pertengkaran bagaikan sayur tanpa garam, tapi aku merasa bahwa pertengkaran kami hari demi hari menjadi sebuah konflik yang hebat. Di dalam setiap dialog pertengkaran kami, aku merasa bahwa diriku yang terlalu lebih ke kanak-kanakan. Tapi itu pun karena ia terkadang mau membanding-bandingkan diriku dengan wanita yang pernah diceritakannya bernama Ana.

Seminggu menjelang dua tahunnya hubungan kami, akhirnya sedikit demi sedikit tidak ada lagi pertengkaran yang terjadi, dan aku telah berjanji tidak akan berburuk sangka tentang dirinya kepada Ana. Kalaupun ada pertengkaran, itu hanyalah sesuatu masalah kecil untuk diperdebatkan. Aku merencanakan untuk merayakannya dengan cara menonton di bioskop. Memang ini adalah perayaan sederhana, lagi pula kami berdua tidak begitu suka dengan perayaan yang berlebihan. Sore hari setelah pulang dari kantor, aku melihat ada sebuah toko kado yang baru saja buka. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk membelikan kado kepadanya. Orang yang telah menemani perjalanan cinta yang hampir dua tahun.

Setelah melihat bermacam-macam hadiah di toko itu, akhirnya aku memilih untuk membelikan sebuah jam tangan. Aku tidak tahu apakah ia akan suka dengan jam ini, tapi setahuku dia selalu senang dengan apa yang aku berikan untuknya. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Aku sudah membuat sedikit tambahan kegiatan dalam perayaan sederhana kami, semua kegiatan dengan pekerjaan atau lainnya aku batalkan. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi tanda pesan masuk, yang isinya bahwa rencana kami menonton batal tanpa ada alasan yang ia berikan. Aku sangat kecewa, namun tidak melemparkan kekecewaan itu kepadanya. Sebab aku telah berjanji untuk tetap bersikap dewasa dan tidak mementingkan egoku sendiri.

Keesokan harinya pada saat pagi-pagi sekali ia meneleponku, dengan mata yang sayu karena masih enak dibawa lelapnya tidur aku menjawab panggilannya. Ia meminta ketemuan pada saat jam makan siang di taman biasa tempat kami berdua, namun kali ini aku harus pergi sendiri ke sana karena ia tidak bisa menjemputku. Tidak masalah.
Sesampainya di taman aku sangat bersemangat, jam tangan yang masih dibungkus oleh kertas kado tidak lupa untukku bawa dan diberikan untuknya. Setelah kami bertemu di bangku taman yang rindang ia hanya diam seperti orang yang sedang kebingungan untuk mencari kata-kata. Aku merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi. “Kita putus”.

Kalimat yang diucapkannya itu sangat menusuk sedalam-dalamnya, air mata yang ingin terjatuh berusaha aku tahan. Ia beralasan tidak tahan dengan sikapku yang terlalu manja, segera dilepaskannya cincin dari jari manisnya yang pernah aku berikan kepadanya dan diletakkannya di bangku taman tempat kami berdua duduk. Aku sangat kecewa. Bibirku kaku untuk berbicara kepadanya dan tanganku seperti tertahan untuk memukulnya. Ku lepaskan juga cincin yang ada di jariku dan ku buang jauh kedua cincin itu ke rumput di tengah taman. Ku ambilkan jam tangan yang terbungkus kado itu dari dalam tas dan ku letakkan di sampingnya, tak peduli apakah ia suka dan mau menerimanya. Terima kasih buat kado dua tahun yang indah ini. Hanya kalimat itu yang aku katakan kepadanya sebelum pergi dan jauh-jauh meninggalkannya.

Aku tidak bisa mengatakan bahwa dia adalah lelaki jahat yang meninggalkanku begitu saja, sikapku juga termasuk salah satu yang memisahkan kami. Tidak lama setelah itu aku mendengar kabar bahwa dia sudah mempunyai kekasih yang baru, semoga saja itu yang terbaik untuknya. Aku juga harus bisa menilai diriku sendiri agar bisa menjadi yang terbaik buat orang baru yang akan mengisi kehidupanku suatu saat nanti. Ada juga beberapa lelaki yang meminta kenalan kepadaku, tetapi fokus dan kesibukan dalam pekerjaan membuatku belakangan ini cuek dalam percintaan, bukan karena belum bisa move on dari dirinya. Aku ingin lebih banyak berkarya dalam pekerjaan atau hal-hal lainnya di usia yang muda ini, lagian jodoh sudah Tuhan yang mengatur. Biarkan saja cinta datang dengan sendirinya.

1 komentar: