Setelah Lulus SMA

Sunday, May 22, 2016

Setelah Lulus SMA

Cerpen Karangan : Stenlly Ladee


“Selamat pagi, selamat pagi, permisi,” seruku dengan sopan, dari pagar depan rumah nenek Dinda.
“Selamat pagi, mari masuk Nak,” seru nenek Dinda.
“Oh iya Nek,” sahutku.
“Dinda lagi mandi, tunggu sedikit yah,” kata neneknya.
Rupanya nenek Dinda sudah tau tujuan aku datang ke rumahnya, kata dalam hatiku. Tidak lama kemudian Dinda pun kemudian ke luar dari kamar dengan penampilan siap untuk berangkat dengan dua tas besar dan satu tas pegangannya.

Pelukan terakhir Dinda
Kami pun beranjak bertolak dari kampung nenek Dinda, hingga kini kami sudah hampir mendekati tempat di mana Ato hendak menunggu mobil untuk pulang ke makasar, di tengah jalan, Dinda memintaku untuk sejenak meluangkan waktu kami menengok Ato yang lagi menunggu bus yang hendak dirinya tumpangi untuk pulang. Hal ini tentunya tidak terduga olehku, Dinda akan meluangkan waktunya bersama denganku untuk menengok Ato di terminal sana.

“Ten nanti kalau udah dekat terminal ingatin aku yah, mau singgah sama Ato,” Kata Dinda.
“Tapi kamunya mau ngapain pake singgah segala sama Ato,” tanyaku dengan sedikit menolak.
“Pokonya plisss, tolong deh aku mau bilangin sesuatu sama Ato sebelum dia pergi,” kata Dinda dengan manja.

Karena Ato adalah sahabatku walaupun dirinya menusukku dari belakang tapi Ato tetap sahabat baik aku dari kecil, ditambah lagi Dinda adalah sosok wanita yang aku cintai walaupun dirinya bukan lagi pacarku saat itu, namun aku harus relakan mereka bertemu di terminal, meskipun sakit melihatnya namun ku harus tetap turuti kata Dinda.
Setelah beberapa menit pun kami hampir mendekati terminal yang Dinda maksud, di sana sudah Ato bersama ayahnya lagi menunggu bus dari makasar tiba. Melihat Ato dekat dengan salah satu warung makan di terminal itu, aku pun perlahan-lahan menghampiri Ato dan ayanya dengan motor yang kami tumpangi bersama Dinda.

“Woy.. Bro jam berapa lagi bus kamu datang?” tanyaku dengan pura-pura akrab, seakan-akan tidak ada apa-apa aku dengan Ato. “Nanti jam dua siang kayaknya, bus ini tiba,” jawab Ato dengan sedikit heran dan raut muka yang menutupi salah.

Mendengar percakapanku dengan Ato sedikit akrab, Dinda mengira kami berdua lagi baik-baik saja. Hanya dengan beberapa menit saja setiba kami di terminal, Dinda meminta pada Ato untuk berbicara sesuatu dengan menjauhiku dan ayah Ato sejenak, Dinda meminta pada Ato agar mereka berdua bisa sebentar bercerita di dekat parkiran mobil dekat toilet terminal. “Ato, sebentar aja, kita ngobrol di depan toilet sana, ada yang aku mau bilangin sama kamu,” kata Dinda sambil mengajak Ato. “Kamu mau ngomong apa sih? Kalau ngomong sesuatu di sini aja,” tolak Ato dengan sedikit melirik padaku. Dinda pun sudah berada di depan toilet dekat parkiran mobil mikrolet sambil memanggil Ato berharap Ato segera menghampirinya.

“Ato.. Ato sini deh cepat..!!!” panggil Dinda. Ato dengan sedikit rasa bersalah terus melihat wajah aku yang sedang asyik pura-pura menerima pesan bbm. Melihat wajah Ato yang agak sedikit bingung dengan pilihannya untuk pergi mendekati Dinda, aku pun lalu berdiri dengan sedikit canda tawa palsu meminta pada Ato untuk segera mendekati Dinda, pasalnya dirinya sangat merasa berat hati jika bercerita berjauhan dari kami.
“Ato, cepat sana kamu dipanggilin Dinda, mungkin ada yang penting dia mau omongin ama kamu,” saranku dengan sedikit canda seraya menutupi rasa kecewaku.

Setelah percakapan mereka itu, yang mungkin hanya sepuluh menit lebih tersebut, aku dan Dinda pun pamitan pada Ato dan ayahnya untuk segera melanjutkan perjalanan. Rasa penasaran dengan apa yang mereka berdua telah percakapkan tadi masih menghangat di dadaku, namun jika aku tanyakan lagi pada Dinda pasti Dinda tidak akan memberitahuku, biarpun Dinda mengatakannya pasti Dinda akan takut karena pikirnya akan berdampak pada perjalanan darat kami kali ini, yang masih akan menempuh jarak berkisaran delapan puluh kilo meter lebih dari terminal saat itu.

Perjalanan yang menempuh waktu tiga jam lebih itu pun kami berdua pecahkan hingga tiba dengan selamat di kota Dinda, maklumlah di jalan aku sangat memanfaatkan kesempatan itu ditambah lagi jalan nasional yang dengan tikungan berbelok-belok tajam serta tanjakan dan penurunan yang cukup terjal. Meskipun perjalanan kami memakan waktu tiga jam lebih namun aku dan Dinda hanya menghabiskan bercerita setengah jam saja, sejak kami bertolak dari terminal. Kali ini berboncengan dengan Dinda sangat berbeda saat kami masih pacaran dulu, meskipun sesekali motor menginjaki jalan yang berlubang namun Dinda mengurungkan niatnya untuk memeluk tubuku seperti dulu, dirinya malahan memegang kuat pada bahuku dengan hati-hati menjaga jarak agar tubunya tidak bersentuhan dengan belakangku.

Menilai respon Dinda kali ini, membuatku sedikit sadar kalau Dinda sudah benar-benar mutlak dengan pilihannya untuk tidak akan lagi kembali denganku. Setiap warung tempat singgah yang kami lewati, aku berharap Dinda akan meminta padaku untuk berhenti sejenak. Namun tak satu pun warung tempat singgah kami singgahi. Memang pernah aku meminta pada Dinda untuk berhenti sejenak dengan sedikit alasan, malahan Dinda memintaku agar tidak berhenti sejenak, karenanya alasan dirinya takut jika tidak sampai di rumahnya dengan tepat waktu.

Kami pun tiba di depan rumah Dinda, seperti bisa, Dinda mengajak untuk mampir di rumahnya dengan tawaran segelas teh untuk menghilangkan rasa pegal saat perjalanan. Setelah minum teh, jam di rumah Dinda sudah menunjukkan pukul 17: 43 aku berpamitan pada Dinda untuk pulang, namun Dinda menyarankan untuk tidak pulang dulu dengan alasan dirinya khawatir, bagaimana tidak perjalananku untuk pulang cukup terbilang jauh butuh waktu dua jam lebih untuk perjalanan darat menggunakan motor ditambah lagi saat itu musim hujan, jadi dengan alasan itu pun Dinda memintaku untuk melanjutkan perjalanan besok paginya.

“Dind, aku pamitan pulang dulu yah?” Pamitku pada Dinda.
“Kamu yakin? Mau pulang sekarang, kalau saran aku sih lebih baik kamu pulang aja besok pagi, lagi pula ini sudah mau hampir malam juga cuaca di luar sana kayaknya udah mau turun hujan,” saran Dinda dengan sedikit muka yang khawatir.
“Baiklah kalau kamu memaksa, aku lanjut besok pagi aja deh, tapi Dinda untuk malam ini bisa nggak kita kencan berdua, ada banyak yang harus aku omongin empat mata dengan kamu,” jawabku sambil memanfaatkan momen itu.
“Hmm gimana yah, iya nanti aku kabarin kamu sebentar, btw jam delapan malam yah kamu datang jemput aku,” jawab Dinda dengan sedikit malu.

Mendengar ajakan kencanku direspon Dinda, langsung berpamitan pada Dinda, pergi untuk cari tempat menginap. Sebenarnya Dinda menawarkan untuk menginap di rumahnya, tapi tawaran tersebut tidak terlalu ku respon dengan alasan berat hati, jika aku tidur di rumah Dinda. Aku pun mulai bertolak dari rumah Dinda, mencari tempat buatku menginap, karena cukup banyak uang yang ku miliki saat itu, aku lebih memilih bermalam di hotel kelas melati, lumayanlah biar cuma menginap satu malam, pikirku. Ditambah lagi kota Dinda adalah salah satu kota destinasi wisata, jadi tidak sulit untuk mencari penginapan.

Ohh satu kelupaan, saat aku hendak mempersiapkan diri untuk menjemput Dinda, saat masih di kampung, aku tidak lupa membawa hadiah ulang tahun Dinda, yang tidak sempat ku berikan padanya, memang sih ulang tahun Dinda tepatnya masih lama, tapi ini kado satu tahun lalu yang tertunda. Penyebabnya hanya berantara dua minggu sebelum Dinda ulang tahun, kami berdua sudah putus terlebih dahulu. Kini alarm di handphone-ku sudah berbunyi dengan nada khas alarm, sengaja ku pasangkan alarm agar jam menjemput Dinda tidak terlambat.

“Waktunya aku pergi sekarang, Dinda mungkin sudah menunggu di sana,” pikirku saat itu.
Seperti biasa tebakku tidak meleset, Dinda sudah dengan penampilan khasnya di beranda depan rumahnya, lagi menungguku untuk pergi kencan bersama, meskipun kencan hanya sebatas teman namun, diriku sudah mensyukuri itu, dibanding dengan sebelumnya aku hanya melihatnya dari jauh.
“Yuk Dind, kita pergi,” ajakku pada Dinda.
“Bu, aku pergi dulu yah, Eten udah datang nih jemput aku,” teriak Dinda sambil berpamitan pada ibunya.
“Terus kamu mau ajak aku ke mana?” tanya Dinda saat sudah duduk di boncengan belakangku.

“Ke mana aja, yang penting bersama kamu, aku nggak apa-apa kok sekalipun sampai habis jalan,” jawab dengan sedikit canda. “Serius nih kita mau ke mana, kalau kamu nggak jelas tujuannya, aku turun nih,” ancam Dinda sambil ketawa.
“Kita pergi makan dulu baru kita cari tempat yang pas untuk ngobrol, gimana?” tawarku sama Dinda.
“Oke ayo kita kemon,” kata Dinda sambil pegangan di pundakku.
Karena suasananya hawanya saat itu dingin, kami lebih memilih makan yang berkuah seperti bakso.
“Dind kita makan bakso aja yah biar hangat, pas nih dingin-dingin,” ajakku dengan spontan.
“Terserah kamu saja Ten,” kata Dinda.

Setelah kami berdua makan di salah satu warung bakso, kami berdua pun mendapat telepon dari tante Dinda untuk mengantarkan kiriman dari neneknya pada tantenya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dengan sedikit menyesal Dinda meminta pada aku untuk menemaninya terlebih dahulu mengantarkan kiriman itu, pasalnya saat itu kami sudah merencanakan untuk berbicara empat mata dengannya di suatu tempat. Dengan rendah hati, aku lebih mengutamakan ingin Dinda.

“Ten, tante aku sms nih, katanya kiriman tadi mau diantar malam ini katanya, terus kita ngobrol yang kamu bilang tadi ditunda dulu yah. Entar kalau udah pulang dari sana baru kita cari tempat yang pas deh..!!” kata Dinda.
“Oh iya Dind, lebih baik kita ikutin dulu pinta tante kamu,” kataku pada Dinda.

Tak terasa waktu pun, menunjukkan pukul 21:21 malam waktu indonesia tengah, saat itu kami pun pergi mengantarkan kiriman yang berbungkuskan plastik hitam, aku tidak tahu kiriman itu apa, tapi setahu aku kiriman itu adalah obat untuk tante Dinda, seingat pesan neneknya sebelum kami berangkat tadi pagi dari kampung nenek Dinda bilang kalau itu obat yang harus segera diantarkan setiba kami di tempat tujuan. Setelah kami berdua mengantarkan kiriman itu, kami berdua pun pulang dari sana, di tengah jalan aku pun mulai bertanya pada Dinda.

“Kita mau ngobrol di mana nih Dind?” tanyaku pad Dinda.
“Terserah kamu aja Ten,” kata Dinda.

Dengan spontan, sedikit disengaja, aku lebih memilih di tempat yang sunyi dan sedikit gelap hanya cahaya bulan saat itu yang menerangi sekeliling kami, tempat itu sedikit romantis dengan pemandangan danau yang diterangi cahaya bulan yang agak kekuning-kuningan serta lampu-lampu kecil, dari jauh yang asalnya dari kampung yang ada di seberang danau sana. Uap air danau seakan membiru, dan menyembunyikan kehangatan naik ke atas, malam yang dingin terasa lengkap dengan kehadirannya, walau kali ini hanya sebatas teman. Tiap kata terhempas berharap balasannya yang sepikir dengan inginku, namun ternyata aku salah menerkanya, keadaan kini makin menarik kencang ulu hati setelah mendengar jawaban kata maaf di awal kata. Ku makin memalukan kaum adam, dengan rasaku yang tak sadar kalau bumi ini besar dan berputar, mendengar kata maaf itu pun mengundang haru.

“Maaf Ten, aku nggak bisa lanjutin, hubungan kita seperti dulu lagi, kayaknya aku merasa kau dan aku baiknya berteman saja,” kata Dinda sambil memegang kedua tanganku.
Rasanya mau menangis, tapi karena menjaga nama baik pria gentelman pemberani dan tidak mau malu-maluin di muka cewek, terpaksa aku menahannya, meskipun sakit di tenggorokan. Diam tanpa kata, seakan tak berdaya selama beberapa menit tak bisa ku hindari, maklum semua sistem kerja otak baik kanan maupun kiri, terasa beku. Melihat keadaan itu, Dinda mencoba memberi sedikit hiburan dengan pelukan yang cukup lama, dengan kata maaf seakan memberi solusi untuk mencari hati yang lain, untuk ku singgahi.

“Ten, kamu masih bisa cari perempuan yang lebih baik dariku,” saran Dinda sambil memelukku.
“Tapi Dind, tidak ada cewek kayak kamu yang pernah aku kenal,” kataku dengan suar yang hampir kecil dekat telinga Dinda.

Pelukan yang hampir lama itu pun ku lepaskan karena tidak enak pada Dinda, saat itu dirinya adalah milik orang lain, jadi aku lebih merasa bersalah, meskipun banyak menikmati. Tidak tahu kenapa setelah pelukan itu, ku lepaskan Dinda malah menarik kembali aku untuk berpelukan dengan dia, meski tidak selama pelukan pertama tadi namun Dinda menikmati itu, terbukti saat dirinya melepaskan pelukan tersebut, Dinda malah menarik kepalaku dengan kedua tangannya seakan memberikan ciuman bibir terakhir padaku, itu tidak lama hanya beberapa detik saja.

Sedikit kaget memang, tapi namanya manusia normal pasti respon alami dapat terjadi. Setelah ciuman bibir terakhir itu hanya berantara beberapa menit aku pun mengecup dahinya, dengan sedikit air mata hangatku yang jatuh pada pipinya kanan dan kirinya. Setelah kecupan pada dahi Dinda, kami pun pulang tanpa ada percakapan khusus pun, yang ada hanya pinta Dinda agar segera mengantarkannya pulang ke rumah. Malam itu setelah ku mengantar Dinda di rumahnya, portal baru berwarnakan dimensi putusan khusus yang berangkat dari keputusan mutlak Dinda, sepertinya merubah obsesiku pada Dinda dengan melebelkan pada diriku berbagai motivasi. Aku sadar saat itu, kalau putusan mutlak dari Dinda akan mengantarkanku pada satu niat untuk lebih fokus pada masa depan, maklum anak laki-laki yang hampir 19 tahun, belum cukup terlatih untuk patah hati.

Dinda adalah sosok perempuan yang bertingkah laku seperti tipe karakter cewek yang berpikir bahwa dunia sedang memandanginya melalui kacamata dengan bingkai kelopak bunga. Ia sering berpikir bahwa orang berpikir dan berbicara hanya hal baik saja mengenai dirinya, dan sering kali ia kecewa karena mengetahui bahwa orang-orang tidak hanya tidak benar, bahkan tidak ada, pada saat itu pula ia merasa sakit hati. Dinda juga sering berpikir bahwa jalannya haruslah menjadi jalan yang indah. Ia berpikir hanya mengenai hal-hal indah, maka hanya hal itulah yang ia persiapkan, dan selalu mengatur hal-hal yang baik saja untuk dirinya, dan mengaturnya sedemikian rupa seakan dia selalu berada di jalur yang pas, sebetulnya cukup sistematis.

Jika tidak ada cowok dalam hidupnya, ia akan berusaha sibuk sendiri. Cewek yang nampak biasa-biasa saja ini akan berusaha mendorong dirinya untuk mencapai tujuannya. Dinda juga cewek yang tampak langsing dan panjang, tulang pipi yang tinggi, alis yang sedikit melengkung ke atas, lebih cenderung kecil sedikit, bibir tipis dan ia seperti memiliki campuran karakter yang cukup membingungkan. Walau kadang dia sangat berhati-hati dalam memilih cowok teman bergaul. Dirinya sering berpikir seakan-akan dia memiliki cpu utama di kepalanya, dan ia dapat mengingat semua hal sejak dari masa kecilnya. Ketika ia menghadapi masalah, Dinda akan segera mengatasinya, dan akan memecahkannya dengan baik, dan bersamaan dengan itu pula menunjukkan kepada orang bahwa ia memiliki kemampuan.

Aku begitu mengenal karakter Dinda, maklumlah kami pacaran cukup lama, dan selama itu pun aku belajar tentang karakternya, ada beberapa aspek yang membuatku cenderung lebih untuk melebel otakku dengan pandangan bahwa Dinda tak ada duanya. Keadaan hari ini, sangat berbeda jauh dengan hari kemarin saat aku masih mati-matian untuk balikan sama Dinda, bahkan rasa cinta yang sempat ku miliki sekarang ku alihkan pada emosi yang positif. Hingga pada suatu saat di sebuah kafe aku dan Dinda ketemu dengan pasangan kami masing-masing, Dinda dengan sedikit heran, melihatku hanya menyapanya dengan senyuman kecil serta dengan candannya yang seakan memujiku. Aku lebih sadar kalau kisah kami berdua adalah rumit tapi itu tidak bisa ku pungkiri aku pernah melewatinya dengan beberapa respon yang unik, buktinya hari ini bisa jadi tulisan.