Pertemuan Senja

Monday, September 5, 2016

Pertemuan Senja

Cerpen Karangan : Sylvia Sari

Maharani memandangi arlojinya dengan gelisah. Pukul 17.59. Detik demi detik jarum jam bergerak, terasa seabad lamanya. Tepat pukul 18.00, Maharani tersenyum merekah. Bergegas ia menutup laptopnya. Teguran Dini, rekan kerjanya tak ia acuhkan seperti biasanya. Ia melesat secepat mungkin, meninggalkan kantor.

Waktu yang ia tunggu telah tiba. Waktu untuk memenuhi janjinya dengan seorang sahabat lama, Waisaka. Dengan berdebar, ia berjalan menuju kafe yang sudah dijanjikan, yang terletak tak jauh dari kantornya. Masih terngiang di ingatannya sepotong kalimat sinis dari Hawari, kekasihnya.

“Kau masih ingin menemuinya?”
“Bukan aku. Ia yang mengajakku bertemu,” kata Maharani singkat.
“Tapi kau terlihat bahagia akan pertemuan ini.”
Maharani terdiam. Tersimpan nada cemburu di kalimat itu.
“Kami hanya teman SMA. Ia hanya kisah lama,” sahut Maharani datar.



Entah angin apa yang membuat Waisaka menghubunginya kembali. Selama enam tahun kehilangan komunikasi, Waisaka mengirimkannya sebuah pesan singkat di facebook tepat di pertengahan bulan Maret.

“Halo, Maharani. Apa kabar?
Lama tak bertemu.”

Maharani terkesiap. Pemuda yang pernah ia sukai selama duduk di bangku SMA, menghubunginya secara tiba-tiba. Setelah menimbang-nimbang selama dua puluh empat jam, ia pun membalas pesan itu.

“Halo, Waisaka. Kabar baik.
Bagaimana dirimu?”

Bermula dari sapaan itu, mereka pun melanjutkannya dengan bertukar cerita singkat, terutama tentang pekerjaan.

“Ngomong-ngomong,
Bagaimana kalau kita bertemu Selasa depan?
Aku ingin mendengarkan ceritamu.”

Sedetik, Maharani tertegun. Kenapa baru sekarang, batinnya. Kenapa di saat aku dan kau telah memiliki kekasih masing-masing?
Lama ia berpikir. Hal yang pertama terlintas adalah Hawari. Hubungan yang telah terjalin selama tiga tahun itu membuat tak ada satu rahasia pun di antara mereka, termasuk perasaan Maharani terdahulu untuk Waisaka.



Sudah cukup baikkah penampilanku, bisik Maharani dalam hati. Beberapa kali, ia menyisir jari rambutnya. Menarik-narik pakaiannya agar terlihat rapi. Semakin langkah membawanya mendekati tempat perjanjian, semakin hatinya berdebar.
Waisaka pernah singgah di hatinya untuk waktu yang lama. Salahkah aku jika hatiku merasakan hal ini kembali, tanyanya. Salahkah aku kepada Hawari dan juga kekasih Waisaka? Aku hanya ingin bertemu dengan Waisaka, walaupun hanya sebatas teman.

Senja di penghujung Maret itu mulai terbenam malu-malu. Siluet senja memerah, menyelimuti seisi kota. Bias-bias kekuningan memantul di wajah siapa saja yang berada di antara hiruk pikuk jalanan.
Maharani terus melangkah menembus senja. Teringat wajah Waisaka delapan tahun lalu ketika mereka duduk di kelas sepuluh.

“Siapa yang bernama Waisaka Satyakumara?” tanya guru fisika kami.
Perlahan, Waisaka mengacungkan tangannya.
“Selamat nilai kamu tertinggi di kelas ini.”
Seluruh murid langsung menatap Waisaka. Waisaka tersenyum malu. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok pemalu dan tak menonjol. Namun sejak itu, banyak yang diam-diam mengaguminya, termasuk Maharani. Perasaan yang berawal dari kekaguman pun terus bersemi dan semakin dalam.



Langkah Maharani terhenti tepat di depan pintu masuk kafe yang dijanjikan. Ketika mendapati Waisaka tengah duduk memunggunginya di balik kaca, waktu seolah terhenti. Ditatapnya punggung Waisaka. Kokoh dan terkesan melindungi. Maharani mengalihkan pandangannya ke wajah Waisaka. Tak dapat dipungkiri, pemuda itu tetap memikat meskipun ditatap dari samping

Maharani pun memasuki ruangan temaram itu. Irama musik waltz yang syahdu menyambut telinganya.
“Halo, Waisaka,” sapa Maharani ketika telah berdiri di hadapan Waisaka.
Sedetik Waisaka tampak terpana.
“Eh, Maharani?” sapanya kikuk.
Mereka berjabat tangan. Waisaka tak pernah berubah. Bahkan senyumnya masih sehangat dulu. Bahunya makin terlihat bidang. Pesonanya makin memancar. Garis-garis tegas di wajahnya membuat ia makin terlihat matang dan memikat.
“Bagaimana keadaanmu?” Waisaka memecah kesunyian di antara mereka.
“Seperti yang kau lihat,” sahut Maharani sambil tersenyum.



Waisaka tetaplah Waisaka yang sama seperti enam tahun lalu. Pemuda baik hati. Ramah. Dan… mampu membuat Maharani terpikat.
Samar-samar, terdengar suara hangat Waisaka enam tahun lalu.

“Apa yang kau baca?” tanya Waisaka kepadanya di perpustakaan sekolahnya.
“Fisika. Aku ingin mendapatkan nilai tertingi sepertimu,” canda Maharani.
Kemudian, mereka tertawa.
“Untung sudah jam pulang sekolah. Kalau tidak, kita bisa diusir,” kata Maharani.
Mereka memang sudah beberapa kali berjanji belajar bersama. Berdua saja, sebagai sahabat.
“Adakah yang ingin kau ketahui tentang Fisika?” tanya Waisaka sopan.
Tidak ada, Waisaka, jawab Maharani kepada hatinya. Hanya kau yang ingin kuketahui.
“Aku bingung di bagian Medan Magnetik,” kata-kata yang sanggup diucapkan Maharani.
Waisaka mendekatkan tubuhnya. Lalu, ia mulai berbicara dengan gaya khasnya. Maharani tak lagi mendengar. Otaknya tumpul. Waisaka hanya berjarak beberapa mili jauhnya. Jemari mereka hanya terpaut sejengkal.
Selesai bicara, Waisaka tercengang. Kedua mata saling memandang. Pantulan perasaan Maharani pun terbaca oleh Waisaka.



“Ceritakanlah tentang dirimu, Rani,” kata Waisaka, sambil menatap Maharani seperti tatapannya di perpustakaan kala itu.
“Sekarang aku sedang mengejar impianku untuk menjadi software engineer,” jawab Maharani, merekahkan seulas senyum.
“Sepertinya kau sibuk sekali. Bagaimana dengan pacarmu? Apakah dia pernah protes menuntut perhatianmu?” tanya Waisaka sambil tertawa.
Maharani hanya tertawa. Masih terngiang perkataan Hawari semalam saat ia mengatakan akan bertemu Waisaka.
“Terserah kau,” kata Hawari singkat, menyiratkan lelaki yang tengah dilanda cemburu.
“Kami hanya teman lama. Kami hanya ingin bertukar cerita,” ujar Maharani meyakinkan Hawari.
Betapa pun dinginnya tanggapan Hawari, Maharani tetap menemui Waisaka, pemuda yang ingin ditemuinya selama enam tahun ini.
“Kau sendiri bagaimana? Pekerjaanmu lancar? Kekasihmu tak marah kau menemui perempuan lain?” tanya Maharani, memendam perih.
“Lancar. Tentu saja tidak. Aku sudah menjelaskan kepadanya bahwa kita teman lama.”
Hati Maharani mencelos. Ya, teman, kita hanya teman. Kata-kata itu mengingatkannya akan pertemuan terakhirnya dengan Waisaka di perpustakaan.



Perasaan Maharani terlanjur dalam terhadap Waisaka. Berbagai upaya dilakukan untuk mendekati Waisaka. Tak peduli apapun tanggapan Waisaka, Maharani terus memperjuangkan perasaannya. Hingga tiba pada suatu hari, di mana ia harus melepaskan semua angan-angannya tentang Waisaka.

Di hari itu, dunia serasa berhenti berputar. Waisaka menegaskan keraguan di hati Maharani. Ia menepiskan segala pertanyaan Maharani dan menjawab semuanya. Di penghujung ajaran kelas dua belas, Waisaka resmi memiliki kekasih.
Terjawab sudah. Perasaan Maharani tak tersampaikan. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Usahanya sia-sia untuk memasuki hati Waisaka.

Sekali lagi, mereka duduk berhadapan di perpustakaan. Suasana canggung terasa seperti pertemuan mereka di kala senja hari ini. Tanpa kata. Tanpa tawa. Tanpa pembahasan Fisika.
“Hari ini bukanlah hari kita belajar bersama,” celetuk Maharani, hatinya berdesir.
Waisaka tertunduk, tampak berpikir keras.
“Apa yang membuatmu mengajakku ke mari?” sambung Maharani setelah menghadapi kenyataan yang demikian menyakitkan.
“Aku ingin meminta maaf…,” Waisaka mulai bersuara. “Aku sudah mengetahui perasaanmu kepadaku lewat tatapanmu. Semua perbuatanmu terhadapku. Maafkanlah aku perasaanku tak sama terhadapmu. Aku ingin tetap menjadi temanmu.”
Setiap kata yang meluncur dari bibir Waisaka menggoreskan perih di hati Maharani. Kata-kata Waisaka yang biasanya hangat menenangkan, kini hanya memperdalam luka.
“Aku tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapmu,” dusta Maharani, menyembunyikan keangkuhannya sebagai perempuan.
Setelah mengucapkan itu, mata Maharani langsung berkaca-kaca. Tanpa kata yang terucap, ia berlalu meninggalkan Waisaka.

Itu yang terjadi enam tahun lalu, tepat di penghujung Maret saat senja perlahan memudar dan menebarkan bias jingga kemerahan.
Sejak itu, jangankan kita berbicara, bertatapan saja tidak pernah, batin Maharani perih.
Waisaka terus bercerita tentang pekerjaannya. Bahwa ia kini meniti kariernya dengan baik, meraih cita-citanya menjadi seorang arsitek. Ia juga bercerita tentang kekasihnya. Perempuan bermata bulat. Berlesung pipi. Dan yang pasti, perempuan pemilik hati Waisaka.

“Sudah jalan berapa lama kau bersamanya, Rani?” tanya Waisaka.
“Sudah tiga tahun. Dan kau sejak SMA bukan?”
Pipi Waisaka bersemu merah, tersenyum malu.
“Benar,” jawab Waisaka, kebahagiaannya terpancar.
Lalu, Waisaka melakukan pergerakan. Ia mengambil sesuatu di balik jaket kulitnya.
“Datanglah bersama pacarmu,” ucap Waisaka sambil menyerahkan sepucuk kertas merah muda.
Tangan Maharani bergetar ketika menerimanya.
Sebuah undangan. Tertera di sampulnya:

“Untuk Maharani Pramudita.”
Undangan pernikahan Waisaka.

Maharani terpaku. Tak tahu harus berkata apa. Kenyataan ini jauh lebih menyakitkan dibanding kenyataan enam tahun silam.
“Oh, ya,” celetuk Waisaka seraya nenyodorkan sebuah pulpen.
Ketika menyentuh pulpen itu, ingatan Maharani langsung melesat pada pertemuan terakhir mereka di perpustakaan.

“Ini milikmu bukan?” tanya Waisaka, tak menyadari perubahan Maharani. “Pulpenmu tertinggal di hari itu.”
“Kenapa kau masih menyimpannya?” tanya Maharani.
“Saat itu, perkataanku terlalu terbuka terhadapmu. Persahabatan kita pun retak. Kupikir, inilah waktu yang tepat untuk mengembalikannya seperti semula, termasuk pulpenmu. Maafkan aku, Rani,” ucap Waisaka penuh ketulusan. “Dengan pertemuan senja ini, kuharap kita dapat kembali seperti dulu.”

Senja kini benar-benar hilang, tenggelam oleh malam. Gelap pekat mengisi relung hati Maharani.
Batin Maharani lumpuh. Tubuhnya kehilangan daya. Kenangan demi kenangan akan dirinya dan Waisaka terus bergulir dan menyesakkan. Kenangan-kenangan indah di masa sekolah tak kan terganti. Waisaka memang kembali, namun ia kembali laksana pertemuan yang bias oleh senja sekali lagi.
Sekali ini, batin Maharani, kuakui aku menyimpan perasaan untukmu hingga sekarang…

Cerpen Karangan: Sylvia Sari
Facebook: https://www.facebook.com/sylvia.sari.7
Bernama lengkap Sylvia Sari, lulusan teknik informatika 2014, memiliki hobi menulis cerita pendek sebagai sarana menyampaikan imajinasi, ide, dan ekspresi. Sekarang, sedang berjuang menggapai cita-cita sebagai software engineer di salah satu market place online di Indonesia.